Berita Pilihan :
Penulis : Admin MS | Jum'at, 03 Mei 2013 16:14 Dibaca : 582   Komentar : 0
Rinto Kogoya bersama anggota AMP lainnya pada saat jumpa pers. Foto: Andi G.

Yogyakarta, MAJALAH SELANGKAH -- Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) menuntut pemerintah Indonesia menuntaskan masalah yang terjadi di Papua. Hal ini dikatakan Rinto Kogoya, ketua AMP Pusat ketika menggelar  jumpa pers bersama wartawan untuk menanggapi tindakan represif aparat militer Indonesia yang melakukan penembakan dan menewaskan warga sipil di Sorong dan Biak Numfor pada saat memperingati 50 tahun aneksasi Papua ke dalam Indonesia, di Asrama Papua, Kamasan I Yogyakarta, Jumat (3/05/2013) siang.

Pemerintah Indonesia selalu membungkam dan menutupi kebenaran atas tindakan tidak manusiawi yang dilakukan oleh aparat TNI/Polri di Papua. "Yang terjadi saat inikan pemerintah selalu membungkam kebenaran. Rakyat Papua minta bukan soal kesejahteraan seperti, pendidikan gratis, kesehatan gratis, namun sebaliknya, rakyat Papua minta kebebasan menetukan nasib sendiri dan selesaikan masalah-masalah pelanggaran HAM yang telah terjadi di Papua dari tahun 1961 hingga kini," Kata Rinto Kogoya, didampingi ketua AMP komite kota Yogyakarta Roy Karoba dan anggota AMP lainnya.


"Rakyat Papua akan hidup sejahtera setelah menentukan nasib sendiri dan persoalan HAM itu dituntaskan. Oleh karenanya, pemerintah Pusat harus memberikan kebebasan demokrasi bagi rakyat Papua untuk menentukan nasib sendiri. Rakyat Papua tidak ingin dijadikan sebagai sapi perah yang terus menerus diperas oleh pemerintah Indonesia," tambah Kogoya.

AMP secara eksplisit menuntut dua tuntutan yakni, pertamanya, AMP meminta kepada rezim SBY-Boediono agar menarik militer (TNI-Polri) Organik dan Non organik dari seluruh tanah Papua sebagai syarat terbukanya ruang demokrasi di Papua. Selanjutnya, AMP meminta agar rezim SBY-Boediono memberikan kebebasan dan hak menetukan nasib sendiri (the right to self determination) bagi rakyat Papua sebagai solusi demokratis. Demikian ditulis dalam siaran pers yang diterima majalahselangkah.com pada saat jumpa pers.

Penembakan tersebut mengakibatkan Abner Magawak (22), warga distrik Makbon, kabupaten Sorong selatan dan Thomas Blesia (28) warga distrik Sakouw, kabupaten Sorong Selatan tewas di tempat kejadian. Sementara tiga warga lainnya mengalami luka-luka terkena peluru panas, masing-masing Salomina Klavin (37), Herman Lokden (18) dan Andreas Sapisa (32) ditulis dalam siaran pers itu.

Peristiwa yang sama juga terjadi di Biak Numfor di jalan Bosnik, Yance Wamaer (30) warga asal kampung Biawer Dwar asal Biak Utara meninggal akibat timah panas aparat Indonesia yang melakukan penyisiran setelah membubarkan secara paksa pada saat melakukan peringatan 50 tahun aneksasi Papua di kampung Ibdi. (Hery Tebai/MS)

Editor : Mateus Ch. Auwe
WAJIB BACAx
[x] close